Puisi Cita - Cita Abadi
10 Sep 2025
Cita-Cita Abadi Di tepi ranjang tempat tidurku, aku termenung sejenak, membayangkan bagaimana tembok belakang pesantren mungkin bisa kuloncati. Kabut hitam menyelimuti akal sehatku. Di balik tembok itu, harapan dan cita-cita terus membisikiku agar mendekat. Namun tarian nasihat ibuku yang mengalir di pikiranku, mengusir semua angan yang menyesatkan. Aku tersadar, ketika dentuman bel dibunyikan oleh pengurus pesantren. Menatap atap kamar dengan pandangan kosong, seolah masa depanku tak sesuai dengan yang kuinginkan.
Ya Allah… aku punya cita-cita.
Ayah dan ibuku pun punya harapan.
Guruku pun punya asa.
Lantas, apa yang harus kulakukan?
Tanya hatiku yang kalut dalam kebingungan. Dunia luar begitu menggoda… menyilaukan, menarikku untuk lebur bersama mereka. Namun bacaan wirid membangunkan lamunan panjangku. Perlahan… aku disadarkan oleh pertanyaan yang tak pernah pergi: “Hidupmu untuk apa?” “Apa cita-citamu hanya sampai di titik ini?” Duarrr! Sambaran petir memecahkan angan rendahku yang semu dan tak berarti. Lantunan nasihat ibuku kembali bergema, memukul kalbuku bertubi-tubi, mengusirku dari niat meloncati tembok belakang pondok. Aku tersadar, dari sandiwara hasrat masa mudaku. Bismillah. Kutinggalkan tembok gelap itu. Kini kusadari… cita-cita tertinggi bukanlah harapan semuku, melainkan berkumpul bersama orang tuaku dan guruku di lembah surga keabadian. Cita-citaku… cita-cita orang tuaku… dan guruku… adalah cita-cita Allah dan Rasul-Nya.
https://youtu.be/1DYdK3m4S2g